Di Balik Tirai Netralitas: Menguak Keberpihakan Media dalam Kontestasi Politik Nasional
Dalam setiap kontestasi politik nasional, media massa seringkali diposisikan sebagai pilar keempat demokrasi, penjaga kebenaran, dan penyuara aspirasi publik. Perannya fundamental: menyediakan informasi yang akurat dan berimbang, berfungsi sebagai forum debat publik, dan mengawasi jalannya pemerintahan serta kandidat. Namun, narasi ideal ini kerap dihadapkan pada realitas kompleks di lapangan, di mana "netralitas" media seringkali menjadi tirai tipis yang menyembunyikan preferensi atau kepentingan tertentu. Keberpihakan media, baik secara terang-terangan maupun terselubung, bukanlah fenomena baru, tetapi dampaknya dalam lanskap politik yang semakin terpolarisasi kini jauh lebih signifikan dan layak dikaji mendalam.
Memahami Konsep Keberpihakan Media
Keberpihakan media dapat didefinisikan sebagai kecenderungan suatu outlet berita untuk secara konsisten melaporkan, menginterpretasikan, atau menyoroti isu-isu dan aktor politik dengan cara yang menguntungkan atau merugikan pihak tertentu. Ini berbeda dengan jurnalisme opini atau editorial, yang memang secara eksplisit menyatakan pandangan. Keberpihakan dalam konteks ini mengacu pada bias yang merasuki liputan berita faktual, yang seharusnya objektif.
Bentuk keberpihakan ini bisa sangat beragam dan seringkali tidak disadari oleh audiens:
- Bias Penyeleksian (Selection Bias): Memilih berita yang akan dimuat atau diabaikan. Contoh: lebih sering meliput kampanye satu kandidat dibandingkan yang lain, atau hanya menyoroti sisi negatif lawan.
- Bias Penempatan (Placement Bias): Menempatkan berita yang menguntungkan di halaman depan atau slot prime-time, sementara berita yang merugikan ditempatkan di bagian dalam atau akhir siaran.
- Bias Nada/Warna (Tone Bias): Menggunakan bahasa, frasa, atau intonasi yang secara halus membentuk persepsi positif atau negatif terhadap seseorang atau isu. Contoh: menyebut satu kandidat "pemimpin visioner" dan yang lain "politisi kontroversial".
- Bias Sumber (Source Bias): Lebih sering mengutip sumber yang mendukung satu pandangan atau kandidat, atau mengabaikan narasumber dari pihak lawan.
- Bias Pembingkaian (Framing Bias): Membentuk narasi seputar isu tertentu dengan sudut pandang yang bias, sehingga memengaruhi cara publik memahami masalah tersebut. Contoh: membingkai kebijakan ekonomi sebagai "pro-rakyat" atau "pro-korporasi" tanpa analisis mendalam.
- Bias Visual (Visual Bias): Penggunaan gambar, grafis, atau video yang lebih menarik atau positif untuk satu pihak, dan yang kurang menarik atau negatif untuk pihak lain.
Akar-Akar Keberpihakan: Mengapa Media Berpihak?
Pertanyaan mendasar yang muncul adalah: mengapa media, yang seyogianya independen, justru menunjukkan keberpihakan? Jawabannya multifaset, melibatkan kepentingan ekonomi, politik, hingga ideologis:
- Kepemilikan Media (Media Ownership): Ini adalah salah satu faktor paling dominan, terutama di negara-negara dengan konglomerasi media yang kuat seperti Indonesia. Banyak pemilik media adalah pebisnis atau individu dengan afiliasi politik yang kuat, atau bahkan berencana terjun langsung ke dunia politik. Kepentingan ekonomi dan politik mereka seringkali tercermin dalam kebijakan editorial media yang mereka miliki. Liputan berita bisa menjadi alat untuk melindungi atau mempromosikan kepentingan bisnis, melobi kebijakan tertentu, atau mendukung jalur politik pemilik.
- Kepentingan Ekonomi dan Komersial: Media adalah bisnis. Pendapatan dari iklan, sponsor, dan pelanggan sangat memengaruhi kelangsungan hidup mereka. Terkadang, demi mempertahankan sumber pendapatan atau menarik audiens tertentu, media mungkin cenderung menghindari berita yang merugikan pengiklan besar atau berpihak pada pandangan mayoritas audiensnya. Persaingan yang ketat juga bisa mendorong media untuk mengejar sensasi atau polarisasi demi meraih perhatian.
- Afiliasi Politik Jurnalis dan Redaksi: Meskipun jurnalis diajarkan untuk objektif, mereka juga manusia dengan pandangan dan keyakinan politik masing-masing. Preferensi pribadi ini, meskipun tidak disengaja, bisa memengaruhi cara mereka memilih sudut pandang, narasumber, atau fokus liputan. Budaya redaksi yang cenderung homogen secara politik juga dapat memperkuat bias ini.
- Tekanan dari Kekuasaan dan Sumber: Media seringkali bergantung pada akses ke sumber-sumber resmi (pemerintah, partai politik, narasumber ahli) untuk mendapatkan berita. Tekanan, baik langsung maupun tidak langsung, dari pihak-pihak berkuasa bisa memengaruhi liputan. Ancaman pencabutan izin, pembatasan akses, atau bahkan "serangan balik" dari buzzer politik dapat membuat media memilih untuk "bermain aman" atau berpihak.
- Demografi Audiens dan "Echo Chamber": Di era digital, media seringkali menargetkan segmen audiens tertentu. Untuk mempertahankan audiens tersebut, mereka mungkin cenderung memperkuat pandangan yang sudah dipegang oleh audiensnya, menciptakan "gelembung filter" atau "ruang gema" (echo chamber) di mana orang hanya terpapar pada informasi yang mengkonfirmasi keyakinan mereka sendiri.
- Algoritma Platform Digital: Media sosial dan mesin pencari, meskipun bukan media itu sendiri, menjadi saluran utama konsumsi berita. Algoritma mereka dirancang untuk menampilkan konten yang paling mungkin menarik perhatian pengguna, seringkali berdasarkan interaksi sebelumnya. Ini dapat secara tidak sengaja memperkuat bias yang ada dengan lebih sering menampilkan berita dari sumber yang konsisten dengan pandangan pengguna, menciptakan siklus umpan balik yang memperdalam polarisasi.
Manifestasi Keberpihakan dalam Kontestasi Politik Nasional
Dalam arena kontestasi politik, keberpihakan media dapat dilihat dalam berbagai bentuk konkret:
- Liputan Kampanye yang Tidak Seimbang: Satu kandidat atau partai bisa mendapatkan porsi liputan yang jauh lebih besar dan lebih positif dibandingkan yang lain. Ini bisa berupa jumlah waktu tayang di TV, jumlah halaman di koran, atau jumlah artikel online.
- Penonjolan Isu Strategis: Media yang berpihak dapat memilih untuk menonjolkan isu-isu yang menguntungkan kandidat dukungannya (misalnya, keberhasilan ekonomi jika mendukung petahana) atau isu-isu yang merugikan lawan (misalnya, dugaan korupsi atau masalah sosial).
- Pemberian Label dan Stereotip: Penggunaan label yang memihak, seperti "kubu oposisi radikal" atau "koalisi penguasa otoriter," dapat membentuk persepsi publik secara negatif terhadap pihak tertentu.
- "Trial by Media": Media dapat secara aktif menggalang opini publik untuk menghakimi atau mengutuk satu kandidat atau partai berdasarkan tuduhan atau isu kontroversial, seringkali sebelum ada proses hukum yang adil.
- Minimnya Verifikasi Fakta: Di tengah gempuran informasi, media yang berpihak kadang kala mengabaikan prinsip verifikasi fakta demi kecepatan atau demi menguatkan narasi yang menguntungkan. Hal ini berkontribusi pada penyebaran disinformasi dan hoaks.
- Pemberitaan yang Menggiring Opini: Alih-alih menyajikan fakta, media cenderung menyajikan opini atau spekulasi yang menggiring audiens pada kesimpulan tertentu yang menguntungkan pihak yang didukung.
Dampak Keberpihakan Media Terhadap Demokrasi dan Masyarakat
Keberpihakan media memiliki konsekuensi serius bagi kesehatan demokrasi dan kohesi sosial:
- Pembentukan Opini Publik yang Terdistorsi: Publik tidak mendapatkan gambaran utuh dan berimbang, sehingga keputusan politik mereka mungkin didasarkan pada informasi yang tidak lengkap atau bias. Ini melemahkan rasionalitas dalam pengambilan keputusan politik.
- Peningkatan Polarisasi Sosial: Ketika media secara konsisten memihak, mereka memperkuat garis pemisah antara kelompok-kelompok politik. Ini bisa menciptakan "kita vs. mereka" mentalitas, mengurangi dialog konstruktif, dan memperdalam perpecahan di masyarakat.
- Erosi Kepercayaan Publik: Ketika masyarakat menyadari bahwa media tidak netral, kepercayaan terhadap institusi media secara keseluruhan akan menurun. Ini berdampak pada kredibilitas informasi, bahkan yang faktual, dan membuat publik rentan terhadap narasi alternatif yang mungkin lebih ekstrem atau manipulatif.
- Ancaman Terhadap Kualitas Demokrasi: Demokrasi yang sehat membutuhkan warga negara yang terinformasi dengan baik untuk membuat pilihan yang rasional. Keberpihakan media menghambat fungsi ini, melemahkan akuntabilitas, dan dapat mengarah pada keputusan politik yang buruk atau bahkan otoriter.
- Potensi Konflik Sosial: Dalam kasus ekstrem, keberpihakan media yang berlebihan dapat memicu kebencian, agitasi, dan bahkan konflik sosial, terutama di tengah kontestasi politik yang sengit.
Studi Kasus Singkat di Indonesia
Di Indonesia, keberpihakan media menjadi isu yang sangat relevan, terutama dalam Pilpres 2014 dan 2019. Struktur kepemilikan media yang terkonsentrasi di tangan segelintir konglomerat, yang sebagian di antaranya juga memiliki kepentingan politik atau berafiliasi dengan partai politik, secara terang-terangan memengaruhi arah pemberitaan. Beberapa media secara eksplisit menunjukkan dukungan atau penolakan terhadap salah satu pasangan calon, bahkan sampai pada level yang dipertanyakan netralitasnya.
Liputan yang cenderung "mendewakan" satu pihak dan "menyerang" pihak lain menjadi pemandangan umum, baik di media cetak, elektronik, maupun daring. Hal ini berkontribusi signifikan pada polarisasi masyarakat yang terasa begitu tajam pasca-pemilu. Isu-isu sensitif seperti agama, identitas, dan nasionalisme seringkali dimanfaatkan dan diperkuat oleh narasi media yang berpihak, memperkeruh suasana politik dan sosial.
Menuju Media yang Lebih Adil dan Bertanggung Jawab
Meskipun keberpihakan media adalah tantangan yang kompleks, ada langkah-langkah yang dapat diambil untuk memitigasinya dan mendorong jurnalisme yang lebih adil dan bertanggung jawab:
- Literasi Media untuk Publik: Pendidikan tentang cara mengidentifikasi bias media, memverifikasi fakta, dan mencari berbagai sumber informasi adalah kunci. Masyarakat yang cerdas media adalah benteng pertama melawan manipulasi.
- Penguatan Jurnalisme Independen: Mendukung outlet media yang berkomitmen pada standar etika jurnalisme yang tinggi, investigasi mendalam, dan independensi dari kepentingan politik atau ekonomi. Model bisnis yang inovatif, seperti langganan pembaca atau donasi, dapat membantu mengurangi ketergantungan pada iklan.
- Regulasi dan Dewan Pers yang Kuat: Lembaga pengawas seperti Dewan Pers harus memiliki gigi yang kuat untuk menegakkan kode etik jurnalisme, menerima pengaduan publik, dan memberikan sanksi yang efektif terhadap pelanggaran etika.
- Diversifikasi Kepemilikan Media: Mendorong kepemilikan media yang lebih beragam dapat mengurangi konsentrasi kekuatan dan bias yang terkumpul di tangan segelintir pihak.
- Transparansi Kepemilikan dan Sumber Pendanaan: Media harus transparan mengenai siapa pemiliknya dan bagaimana mereka didanai, sehingga publik dapat menilai potensi bias.
- Inisiatif Verifikasi Fakta: Mendukung dan memperkuat organisasi serta platform verifikasi fakta independen yang bekerja sama dengan media untuk melawan disinformasi dan hoaks.
- Tekanan Publik: Masyarakat memiliki kekuatan untuk menuntut akuntabilitas dari media. Protes, boikot, atau kritik konstruktif dapat mendorong media untuk lebih berhati-hati dalam liputan mereka.
Kesimpulan
Keberpihakan media dalam kontestasi politik nasional adalah fenomena yang kompleks, berakar pada berbagai faktor mulai dari kepentingan kepemilikan hingga algoritma digital. Manifestasinya beragam, dari pemilihan berita hingga penggunaan bahasa, dan dampaknya sangat signifikan terhadap kualitas demokrasi, kohesi sosial, dan kepercayaan publik. Di Indonesia, di mana polarisasi politik seringkali diperparah oleh liputan media yang bias, tantangan ini sangat nyata.
Namun, keberpihakan bukanlah takdir yang tak terhindarkan. Dengan meningkatkan literasi media di kalangan publik, memperkuat jurnalisme independen, mendorong regulasi yang efektif, dan menuntut transparansi, kita dapat bergerak menuju lanskap media yang lebih adil dan bertanggung jawab. Media yang ideal adalah media yang berani menyuarakan kebenaran tanpa pandang bulu, menjadi penyeimbang kekuatan, dan benar-benar melayani kepentingan publik, bukan kepentingan segelintir elit. Hanya dengan begitu, pilar keempat demokrasi ini dapat menjalankan fungsinya secara optimal dan menjaga kontestasi politik tetap sehat dan bermartabat.












